Wednesday, November 27, 2013

The life must go on

There is nothing endured forever in this world.
There will always be the first time and the last time, meet and go, arrive and leave, have and lose.
But do you realize that the world still go in its cycle eventhough you might lose something or someone?

Just be still and know that He is GOD (Psalm 46:10)

Sebuah cerpen

Sebuah cerpen
INDONESIA dalam Warna

            Sebuah bola bernama ‘bumi’ hanya tampak berwarna biru dan putih dari ketinggian yang teramat tinggi. Sebuah mata tiba-tiba memutar lensa optik-nya ke beberapa kali perbesaran hingga tampaklah sebuah gugusan kepulauan yang bernama Indonesia.
            Ada Sang Tuan yang sedang mengamati pulau-pulau di Indonesia.
            Sesosok malaikat bersayap tiba-tiba menghampirinya dengan membawa sebendel kertas di tangannya. Dengan lagak seperti sekretaris, dia menyerahkan kertas-kertas itu kepada Tuannya.
“Anda perlu membaca beberapa dokumen, Tuan.”
            Tangan Sang Tuan meng-interupsi perkataan sekretarisnya. “Hari ini saya ingin jalan-jalan.”
“Mau pergi jalan-jalan kemana, Tuan?” tanya sang malaikat ingin tahu.
Yang penting jalan-jalan!” Sang Tuan menjawab sambil berlalu darinya.
“Saya juga mau ikut!” teriak Sang sekretaris sambil mengikuti Tuannya dari belakang.
Sang Tuan membiarkan sekretarisnya tetap mengikutinya dari belakang sambil terus memandangi berbagai penampakan alam dibawahnya.
Sang sekretaris menepuk bahu Tuannya dengan sebisa mungkin berusaha untuk pelan dan sopan. “Lihat Indonesia yuk, Tuan!”
Lirikan mata Sang Tuan yang tajam kearah sang sekretaris membuatnya kaget dan dengan reaksi spontan memundurkan badannya.  “Kemana?”
“In…. Indonesia, Tuan.”
Sang Tuan menimbang-nimbang sebentar sebelum akhirnya dia berkata, “Baiklah.”
Cengiran lebar terpasang di wajah Sang sekretaris.
Mereka melesat menuju ke tenggara hingga sampai di tengah-tengah kepulauan.
Sang sekretaris membuka ipad-nya dan menyalakan GPS. “Secara astronomis, saat ini kita sedang berada di wilayah kepulauan yang terletak disepanjang 6º Lintang Utara sampai 11º Lintang Selatan dilihat dari garis lintangnya, lalu  95º Bujur Timur  sampai 141º Bujur Timur.”
“Sssttt…” Sang Tuan menaruh jari telunjuknya di bibir mengisyaratkan sekretarisnya agar diam. “Saya sudah tahu.”
“Hehee… Maaf, Tuan! Kebiasaan sih….”
Tiba-tiba terdengar sebuah suara.
“Selamat datang di negeri Indonesia, Tuan. Kami memiliki banyak sekali tempat mengagumkan yang dapat anda kunjungi.”
Sang Tuan dan sekretarisnya mencari sumber suara itu. Tengak-tengok kanan-kiri.
“Ho… ho.. ho….”  seekor burung Garuda melesat terbang menghampiri mereka.
“Hai, Garuda!” Sang sekretaris melambaikan tangannya menyapa.
Sang Garuda merunduk memberikan hormat kepada Tuan dihadapannya.
“Tunjukan kepadaku negerimu, Garuda!” Sang Tuan mengomando.
“Tentu saja, Tuan. Mari ikut saya!”
***
Hari ini memang hari yang sangat cocok untuk berjalan-jalan. Udara sejuk dengan langit biru berselaput putihnya awan dan lihat! Ada pelangi disana!
“Lihat, Tuan…. Ada pelangi!” seru Sang sekretaris.
Sang Tuan tersenyum.
“Janji Tuan dalam pelangi terwujud juga di negeri ini,” Sang Garuda berkata.
“Apa….Apa??!” Sang sekretaris antusias ingin tahu dengan mata centilnya yang berkedip-kedip.
Sang Tuan hanya menepuk-nepuk punda sekretarisnya yang gayanya sedikit berlebihan itu.
Sang Garuda tersenyum penuh arti. “Baiklah, saya akan memperkenalkan kepada anda tentang keindahan alam Indonesia melalui ketujuh warna pelangi.”
“Merah-Jingga-Kuning-Hijau-Biru-Nila-Ungu! Benar kan?” seru Sang sekretaris. Lagi-lagi secara berlebihan.
“Benar,” Sang Garuda menanggapi dengan senyuman ramah.
***
Mereka melesat ke sebelah barat, pulau paling barat di Indonesia, Sumatra.
Sebuah gunung berapi menjulang tinggi terlihat bahkan dari kejauhan sekalipun.
 “Saya persembahkan Gunung Berapi Kerinci!” Sang Garuda sedikit mendramatisir.
Prokk…prookkk….
Sang sekretaris bertepuk tangan dengan girangnya.
“Hai….” Sapa Sang gunung dengan nada ramah.
Sang Tuan membalasnya dengan senyuman yang tak kalah ramahnya.
Sang sekretaris spontan menyalakan ipad-nya dan membaca deskripsi yang ada didalamnya mengenai gunung berapi yang berada di hadapannya ini. “Gunung Kerinci, berada sekitar 130 kilometer arah Selatan Kota Padang, di pegunungan Bukit Barisan yang terletak di Jambi dan Sumatra Barat yang merupakan gunung berapi tertinggi di negeri Indonesia ini. Wilayah ini merupakan…..”
Tangan Sang Tuan digerakan menutup mulut sekretarisnya. “Kamu bukan tour-guide!”
“Hehee…” Si sekretaris nyengir kuda.
“Saya merupakan gunung berapi tertinggi di seantero negeri ini, Tuan. Tinggi saya mencapai  3.805 meter diatas permukaan laut. Saya juga masih merupakan gunung berapi yang masih aktif.”
“Kamu pernah erupsi?” tanya Sang Tuan.
“Ya, Tuan. Beberapa kali,” jawab Sang Gunung Berapi. “Letusan terakhir adalah pada tahun 2009 yang lalu. Untunglah ini bukan merupakan suatu letusan besar yang mengakibatkan kerusakan yang parah.”
“ck… ck….ck….” Sang Sekretaris bercedak prihatin. “Benar-benar merah lava-nya!” dia memperhatikan video cuplikan peristiwa erupsi si gunung Kerinci di ipad-nya.
“Tapi tenang saja, Tuan! Saya aman untuk didaki,” lanjut Sang Gunung Berapi.
“Oh ya? Jadi ada banyak orang sudah melakukan pendakian disini?” Sang Tuan berekspresi takjub.
“Benar, Tuan. Mereka membutuhkan wkatu dua hari untuk sampai ke kepala saya,” respon Sang Gunung Berapi. “Anda dapat melihat keindahan kota Jambi, Padang, dan Bengkulu dari kejauhan saat berada dipuncak kepala saya dengan semburat langit berwarna jingga pengaruh cahaya matahari yang mulai muncul di ujung sana.”
“Tuan… coba yuk!” Sang sekretarisnya gak capek-capeknya berantusias untuk segala sesuatu.
Sang Tuan menurut. Mereka berdiri disalah satu tanah datar diatas kepala Sang Gunung Berapi dan melihat indahnya pemandangan yang ada dihadapan mereka. Langitnya berwarna jingga seperti menyelimuti kawasan pedesaan dibawahnya.
Sang Tuan memandang ke sekelilingnya. “Benar-benar indah,” pujinya.
Kapan-kapan dia harus mencoba untuk melakukan pendakian menyusuri gunung berapi ini.
“Ya… dan saya bangga karenanya,” Sang Gunung Berapi berkata dengan tegas.

***
“Ada yang indah juga disini!” sebuah suara menggema.
Sang Tuan menoleh. Di kejauhan timur sana, kelihatanlah olehnya sebuah burung Cendrawasih dengan bulu berwarna kuningnya yang indah. Sang Tuan mendekati burung itu, diikuti oleh sekretarisnya dan si Garuda. Mereka tiba-tiba saja tertarik ke sebelah ujung timur dari wilayah Indonesia ini.
“Hai…..” Sang Cendrawasih menyapa.
Kembali Sang Tuan tersenyum meresponinya.
“Saat ini anda sedang melihat burung terindah di seantero Indonesia. Nama saya adalah Cendrawasih kuning kecil atau bisa juga dipanggil Paradisaea minor.
“Salam kenal!” sahut si Sekretaris.
Sang Cendrawasih merentangkan bulu-bulu di sayapnya, memperlihatkan kecantikan pakaian berwarna kuning yang dikenakannya itu.
Sang Garuda mengepak-ngepakan sayapnya sambil mengedipkan sebelah matanya pada si burung Cendrawasih.
“Dia gak bakal suka sama kamu!” bisik si Sekretaris ke telinga Garuda.
“Bukan urusan kamu!” tukas Sang Garuda.
“Paradisaea minor…. Kau sangat indah. Tak heran banyak orang merasa sangat senang melihatmu.”
“Cendrawasih menjadi kebanggaan sendiri bagi wilayah kami, tanah Papua, Tuan.”
“Bagus… bagus…” Sang Tuan manggut-manggut.
Tiba-tiba ada suara berisik. Mereka semua serentak melihat kesebelah kiri mereka dimana sebuah tempat yang memiliki banyak gedung mengelilingi sebuah kubangan besar.
“Itu tambang emas,” kata Sang Cendrawasih seakan tahu pertanyaan si Sekretaris.
“Emas? Wah!” Sang sekretaris bergumam sendiri.
“Emas… sebuah materi berwarna kuning yang amat berharga dengan harga yang mahal. Tambang emas terbesar se-Indonesia ada disini!”
“Wilayah ini adalah tanah yang kaya!”
“Ya dan saya bangga karenanya,” Sang Cendrawasih berkata dengan tegas.
***
“Jangan lupakan yang hijau disini!” suara lain terdengar.
Sang Tuan segera mencari sumber suara itu. Di kejauhan, tampak sekelompok pepohonan hijau yang sedang bergoyang tertiup angin.
“Hai…”
“Hai…”
“Hai…”
Pohon-pohon itu menyapa bergantian.
“Nah… ini aspek yang penting dalam menjaga dunia dari global warming!” seru Sang Sekretaris.
“Ya, benar sekali. Pulau Kalimantan terkenal dengan populasi pepohonannya yang sangat banyak,” Sang Garuda memperkenalkan wilayah dimana mereka berada sekarang.
“Kami adalah Hutan Kalimantan. Kehijauan kami dapat membantu melindungi bumi ini, khususnya negeri Indonesia ini.”
“Wah… Kalian sangat berjasa! Terima kasih untuk hal itu!” Sang Tuan tersenyum lebar kepada mereka.
Sang Hutan Kalimantan tersipu. “Silahkan berjalan-jalan disekitar kami dan anda akan merasakan ketenangan, kedamaian, kesejukan, dan kesegaran. Sangat bagus untuk relaksasi, Tuan!”
“Ya… Udaranya sangat segar!” Sang Tuan mengangguk-angguk. “Kalian indah dengan warna hijau yang menghampar melindungi udara di Indonesia!”
“Ya, benar, Tuan, dan saya bangga karenanya,” ucap Sang Hutan Kalimantan serempak.
***
“Ada yang ingin menyelam dan melihat apa yang ada didalam birunya laut?” sebuah suara terdengar seperti salesman yang sedang menjajakan dagangannya.
Sang Tuan menoleh kesebelah kirinya.
Tepat di pulau sebelahnya, air laut yang tadinya tenang menjadi bergelombang mengikuti suara yang terdengar.
Sang sekretaris segera melesat keatas laut itu.
“Selamat datang di wisata bawah laut Bunaken!” Sang Garuda berkata dengan lantang.
“Hai….” sapa Sang Laut.
Sang sekretaris membenamkan kepalanya kedalam air laut.
“Eh…. Jangan sembarangan!” Tuannya mengingatkan.
Beberapa detik kemudian, dia menongolkan kepalanya karena kehabisan nafas. Tapi ekspresi yang dikeluarkannya malah sumringah.
“Wow……Keren banget didalam, Tuan!” katanya sambil berdecak kagum.
“Indah, bukan?” Sang Laut membanggakan dirinya.
“Saya dinamakan Taman Nasional Bunaken, merupakan sebuah pulau kecil bernma Bunaken terletak di Sulawesi Utara. Pulau ini dapat di tempuh dengan speed boat atau kapal kecil sewaan dengan perjalanan sekitar 30 menit dari pelabuhan kota Manado,” Sang Laut menjelaskan sebelum si Sekretaris menjelaskannya terlebih dahulu dengan gaya sok tahu (ya sebenarnya memang tahu).
“Banyak sekali wisatawan datang ke tempat ini untuk menikmati keindahan bawah lautnya. Iya kan?” Sang Sekretaris menambahkan penjelasan itu. Tuh kan?!
Sang Laut memercikan air ke wajah si Sekretaris. “Iya, benar sekali!”
Sang Tuan mencoba melihat kebawah laut itu. “Wah…. Saya melihat ikan-ikan dan terumbu karang yang indah! Dibawah birunya laut, terdapat beraneka bentuk dan warna biota laut disini,” pujinya saat menengadahkan kepalanya dari laut.
“Ya benar, Tuan, dan saya bangga karenanya,” Sang Laut membuat ombak bergelombang.
***
Terdengar suara berisik pasir dalam jumlah besar yang dijatuhkan ke lantai.
Sang Tuan mengarahkan matanya ke arah selatan. Lalu dengan cepat melesat mendekati sebuah pulau di selatan.
Butiran pasir bergerombol membentuk sesuatu yang mempunyai kaki, tangan, dan mulut. “Hai,” sapanya.
“Wah…. Kalian ngecat diri kalian ya? Kok warnanya pink?” tanya Sang Sekretaris terkejut melihat warna pasir yang ada dihadapannya.
“Memangnya rambut pake dicat segala?” tukas Sang Tuan menegur sekretarisnya.
“Ya mungkin aja, Tuan! Beli aja cat rambut yang banyak!”
Butiran pasir itu membentuk mulut yang tersenyum. “Inilah keunikan dari Pantai Pasir Pink di Taman Nasional Komodo di Pulau Komodo yang terletak di Busa Tenggara Timur. Kami adalah pasir merah muda itu!”
Sang Sekretaris memandang keseluruh pantai yang penuh dengan pasir berwarna merah muda, terlebih saat pasir itu baru saja tersapu oleh ombak. “Bagus banget! Kok bisa warnanya merah muda?”
“Warna pink atau merah muda ini berasal dari hewan mikroskopik bernama foraminifera yang memproduksi warna merah atau pink terang pada terumbu karang dan pecahan karang yang berwarna merah itu tersebar disepanjang pasir di pantai ini mati hingga menyebabkan kami berwarna merah muda.”
“Forami apa?” Sang Sekretaris merasa aneh mendengar istilah itu.
“Udah gak usah dipikirin! Main-main aja di pantai ini. Jarang kan bikin istana pasir yang warnanya pink?” kata Sang Butiran Pasir itu memberi tawaran.
“Warna pink pasir di pantai ini mempunyai daya tarik yang sangat bagus. Pemandangan pantainya jadi terlihat indah yang tidak biasa seperti pantai lainnya karena warna merah muda pasirnya,” puji Sang Tuan sambil berjalan perlahan dipantai itu, menapaki pasir-pasir berwarna merah muda yang basah terkena air laut itu.
“Ya, benar, Tuan, dan saya bangga karenanya,” kata Butiran pasir itu.
***
 “Tuan… hari sudah semakin sore disini. Pulang yuk!” ajak Sang Sekretaris pada Tuannya.
“Ada lagi yang ingin anda tunjukan, Garuda?” tanya Sang Tuan pada si burung Garuda.
“Sebagai penutup, bagaimana kalau kita melihat matahari terbenam di sebuah pantai di pulau Karimun Jawa?”
“Sunset? Ayok!!!!” Sang Sekretaris yang tadinya sudah tak sabar untuk mengakhiri acara jalan-jalan ini, menjadi bersemangat untuk melanjutkannya ke sebuah tempat yang bernama Karimun Jawa.
Sang Garuda mengarahkan mereka ke pulau Jawa, lalu semakin dekat ke sebuah pulau kecil di atasnya.
Sampailah mereka ke tempat tujuan.
“Ini adalah Pulau Karimun Jawa yang terletak di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah,” Sang Garuda memperkenalkan tempat itu.
 Mereka berhenti di sebuah jembatan kayu yang mengarah hampir ke tengah laut. Disana mereka melihat dari kejauhan, Sang matahari perlahan tenggelam di sebuah garis perbatasan laut dan langit.
Akan tetapi ada hal yang unik dari pemandangan matahari terbenam lainnya.
“Pancaran matahari yang akan terbenam dilihat dari pantai ini akan memancarkan cahaya kuning keemasan dengan lembayung ungu,” jelas Sang Garuda.
“Wah…. Sunset Ungu!!!” Sang Sekretaris berdecak kagum dengan mata yang berbinar. “Indah banget ya, Tuan? Cocok nih untuk tempat kencan!”
Spontan Sang Garuda tertawa.
Sang Tuan menganggukan kepalanya. “Sangat indah!”
“Ya, benar, dan saya bangga karenanya!” sebuah suara terdengar ditengah deburan ombak lautan.
***
 “Warna itu merupakan gelombang continue yang menyambung satu sama lain dan tak terpisahkan, hanya saja panjang gelombangnya berbeda.”
“Tuan…. Lagi belajar Fisika?” tanya si Sekretaris tak mengerti arah perkataan Tuannya itu.
“Apa yang tadi saya katakana ada kaitannya dengan keindahan Indonesia!”
Sang Sekretaris malah garuk-garuk kepala, tak mengerti juga.
“Berbagai keindahan alam yang tadi telah kita lihat merupakan representasi warna pelangi, bukan?”
Sang Garuda mengangguk. Si Sekretaris masih garuk-garuk kepala.
“Maka tiap-tiap dari mereka tak terpisahkan dalam naungan negeri Indonesia ini. Mereka semua adalah obyek penting bagi Indobesia dan harus saling berkontinue untuk mengharumkan nama Indonesia dan kepentingan umum.”
“Benar, Tuan! Saya bangga karenanya!” Sang Garuda menaruh sayap kanannya di depan dadanya.
Sang Tuan dan sekretarisnya membalas dengan senyuman lebar. Si Sekretaris melambaikan tangannya pada Garuda yang hanya bisa mengibaskan sayapnya.
Keduanya kemudian melesat dalam cahaya putih yang menyilaukan.
Sang Garuda mengepak-ngepakan sayapnya, semakin kencang, hingga ia melesat mengitari negerinya, negeri kepulauan yang membuat Sang Garuda sangat bangga kepadanya.
***

            

Thursday, November 14, 2013


“If people do not believe that mathematics is simple, it is only because they do not realize how complicated life is.” 
― John von Neumann


Come on, guys... siapa yang bilang kalau hidup itu mudah?

ya, hidup itu susah. Tapi kalian pasti gak pernah berpikir bahwa hidup itu lebih susah dari sekadar mengerjakan soal matematika. 
Dalam Matematika, kita punya rumus. Tinggal masukin angka-angka yang ada di soal kedalam rumus yang tersedia. Lalu... holala! Ketemulah jawabannya. Masalah selesai!
Gitu aja kok direpotin?

Nah... coba kita amati kehidupan kita. Emang ada rumus buat memecahkan semua masalah-masalah di hidup kita? 

Oke lah, kita bisa lihat banyak banget orang yang mengadakan seminar motivasi tentang cara-cara jitu untuk mencapai sukses di dalam karir, menjadi orang yang berbahagia dan awet muda, menjadi murid yang berprestasi, menjadi penulis yang hebat, sampai menjadi ibu rumah tangga yang baik. Bentar lagi pasti ada seminar tentang cara menjadi pembantu rumah tangga yang baik!
Ada banyak buku juga diterbitkan mengenai hal-hal diatas atau mungkin hal lainnya yang mirip dengan hal itu,
gak kembar identik tapi intinya kembar!
Hal-hal diatas bagus.... sangat bagus untuk diikuti dan dipelajari.
Tapi kalau kita mau telaah lagi, apakah itu benar-benar 100% menjamin? Bukankah semuanya pada akhirnya dikembalikan kepada yang Empunya?

Artinya, kehidupan kita ini complicated alias membingungkan....

sering kali kita berada di posisi dimana kita merasa menemukan 'unsolved problem' atau masalah yang tak terpecahkan.
Dalam Matematika, hanya ada dua kemungkinan jika kita menemukan 'unsolved problem'.
Yang pertama, emang soal-nya yang salah! Salah si pembuat soal-nya dong! Jadi ya gak usah dikerjain!
Yang kedua, sebenernya ada jawabannya dan bisa dipecahkan, tapi butuh higher thinking alias mikir lebih tinggi! 
Kalau dalam hidup?
Kemungkinan yang pertama jelaslah gak mungkin! Tuhan gak pernah salah dalam membuat segala sesuatu dalam hidup kita. Sekalipun Dia mengizinkan masalah datang ke hidup kita, itupun bukan suatu kesalahan. 
Jadi.... yang mungkin adalah yang kedua.
Semua masalah itu ada penyelesaian tepatnya! Cuma memang kadang-kadang butuh higher thinking!
Kalau kita gak tinggi, naik pohon atau manjat menara biar jadi tinggi.
Kalau kita pikirannya pendek -maunya nyerah, jatuh di kubangan lumpur dan malah menikmati berkubang, atau malah memilih mengakhiri hidupnya- ya jelas lah gak bisa dipecahin masalah kehidupannya!
Higher thinking bukan buat orang-orang pinter bin jenius kayak Albert Einstein kok!
Cukup dengan berdiam diri sejenak dan berpikir dengan pikiran yang jernih kearah yang positif....

Nah, sekarang, yakinkan diri anda bahwa semua masalah pasti bisa dihadapi dan akan ada penyelesaiannya.

Eh, btw, jangan lupa nulis conclusion dari penyelesaian masalah anda! dalam maetematika, harus ada himpunan penyelesaian (HP) tuh!