There is nothing endured forever in this world.
There will always be the first time and the last time, meet and go, arrive and leave, have and lose.
But do you realize that the world still go in its cycle eventhough you might lose something or someone?
Just be still and know that He is GOD (Psalm 46:10)
Wednesday, November 27, 2013
Sebuah cerpen
Sebuah cerpen
“INDONESIA
dalam Warna”
Sebuah
bola bernama ‘bumi’ hanya tampak berwarna biru dan putih dari ketinggian yang
teramat tinggi. Sebuah mata tiba-tiba memutar lensa optik-nya ke beberapa kali
perbesaran hingga tampaklah sebuah gugusan kepulauan yang bernama Indonesia.
Ada Sang
Tuan yang sedang mengamati pulau-pulau di Indonesia.
Sesosok
malaikat bersayap tiba-tiba menghampirinya dengan membawa sebendel kertas di
tangannya. Dengan lagak seperti sekretaris, dia menyerahkan kertas-kertas itu
kepada Tuannya.
“Anda perlu membaca beberapa
dokumen, Tuan.”
Tangan
Sang Tuan meng-interupsi perkataan sekretarisnya. “Hari ini saya ingin jalan-jalan.”
“Mau pergi jalan-jalan kemana,
Tuan?” tanya sang malaikat ingin tahu.
“Yang penting jalan-jalan!” Sang Tuan menjawab sambil berlalu darinya.
“Saya juga mau ikut!” teriak
Sang sekretaris sambil mengikuti Tuannya dari belakang.
Sang Tuan membiarkan
sekretarisnya tetap mengikutinya dari belakang sambil terus memandangi berbagai
penampakan alam dibawahnya.
Sang sekretaris menepuk bahu
Tuannya dengan sebisa mungkin berusaha untuk pelan dan sopan. “Lihat Indonesia
yuk, Tuan!”
Lirikan mata Sang Tuan yang
tajam kearah sang sekretaris membuatnya kaget dan dengan reaksi spontan
memundurkan badannya. “Kemana?”
“In…. Indonesia, Tuan.”
Sang Tuan menimbang-nimbang
sebentar sebelum akhirnya dia berkata, “Baiklah.”
Cengiran lebar terpasang di
wajah Sang sekretaris.
Mereka melesat menuju ke
tenggara hingga sampai di tengah-tengah kepulauan.
Sang sekretaris membuka ipad-nya dan menyalakan GPS. “Secara astronomis, saat ini kita
sedang berada di wilayah kepulauan yang terletak disepanjang 6º Lintang Utara sampai 11º Lintang Selatan dilihat dari garis lintangnya, lalu 95º Bujur Timur
sampai 141º Bujur Timur.”
“Sssttt…” Sang Tuan menaruh
jari telunjuknya di bibir mengisyaratkan sekretarisnya agar diam. “Saya sudah
tahu.”
“Hehee… Maaf, Tuan! Kebiasaan
sih….”
Tiba-tiba terdengar sebuah
suara.
“Selamat datang di negeri
Indonesia, Tuan. Kami memiliki banyak sekali tempat mengagumkan yang dapat anda
kunjungi.”
Sang Tuan dan sekretarisnya mencari
sumber suara itu. Tengak-tengok kanan-kiri.
“Ho… ho.. ho….” seekor burung Garuda melesat terbang
menghampiri mereka.
“Hai, Garuda!” Sang sekretaris
melambaikan tangannya menyapa.
Sang Garuda merunduk memberikan
hormat kepada Tuan dihadapannya.
“Tunjukan kepadaku negerimu,
Garuda!” Sang Tuan mengomando.
“Tentu saja, Tuan. Mari ikut
saya!”
***
Hari ini memang hari yang
sangat cocok untuk berjalan-jalan. Udara sejuk dengan langit biru berselaput
putihnya awan dan lihat! Ada pelangi disana!
“Lihat, Tuan…. Ada pelangi!”
seru Sang sekretaris.
Sang Tuan tersenyum.
“Janji Tuan dalam pelangi
terwujud juga di negeri ini,” Sang Garuda berkata.
“Apa….Apa??!” Sang sekretaris antusias ingin tahu dengan mata
centilnya yang berkedip-kedip.
Sang Tuan hanya menepuk-nepuk
punda sekretarisnya yang gayanya sedikit berlebihan itu.
Sang Garuda tersenyum penuh
arti. “Baiklah, saya akan memperkenalkan kepada anda tentang keindahan alam
Indonesia melalui ketujuh warna pelangi.”
“Merah-Jingga-Kuning-Hijau-Biru-Nila-Ungu!
Benar kan?” seru Sang sekretaris. Lagi-lagi secara berlebihan.
“Benar,” Sang Garuda menanggapi
dengan senyuman ramah.
***
Mereka melesat ke sebelah
barat, pulau paling barat di Indonesia, Sumatra.
Sebuah gunung berapi menjulang tinggi
terlihat bahkan dari kejauhan sekalipun.
“Saya persembahkan Gunung Berapi Kerinci!”
Sang Garuda sedikit mendramatisir.
Prokk…prookkk….
Sang sekretaris bertepuk tangan
dengan girangnya.
“Hai….” Sapa Sang gunung dengan
nada ramah.
Sang Tuan membalasnya dengan
senyuman yang tak kalah ramahnya.
Sang sekretaris spontan
menyalakan ipad-nya dan membaca
deskripsi yang ada didalamnya mengenai gunung berapi yang berada di hadapannya
ini. “Gunung Kerinci, berada sekitar 130 kilometer arah Selatan Kota Padang, di
pegunungan Bukit Barisan yang terletak di Jambi dan Sumatra Barat yang
merupakan gunung berapi tertinggi di negeri Indonesia ini. Wilayah ini
merupakan…..”
Tangan Sang Tuan digerakan
menutup mulut sekretarisnya. “Kamu bukan tour-guide!”
“Hehee…” Si sekretaris nyengir
kuda.
“Saya merupakan gunung berapi
tertinggi di seantero negeri ini, Tuan. Tinggi saya mencapai 3.805 meter
diatas permukaan laut. Saya juga masih merupakan gunung berapi yang masih
aktif.”
“Kamu pernah erupsi?” tanya
Sang Tuan.
“Ya, Tuan. Beberapa kali,”
jawab Sang Gunung Berapi. “Letusan terakhir adalah pada tahun 2009 yang lalu.
Untunglah ini bukan merupakan suatu letusan besar yang mengakibatkan kerusakan
yang parah.”
“ck… ck….ck….” Sang Sekretaris
bercedak prihatin. “Benar-benar merah lava-nya!” dia memperhatikan video cuplikan
peristiwa erupsi si gunung Kerinci di ipad-nya.
“Tapi tenang saja, Tuan! Saya aman
untuk didaki,” lanjut Sang Gunung Berapi.
“Oh ya? Jadi ada banyak orang
sudah melakukan pendakian disini?” Sang Tuan berekspresi takjub.
“Benar, Tuan. Mereka
membutuhkan wkatu dua hari untuk sampai ke kepala saya,” respon Sang Gunung
Berapi. “Anda dapat melihat keindahan kota Jambi, Padang, dan Bengkulu dari
kejauhan saat berada dipuncak kepala saya dengan semburat langit berwarna
jingga pengaruh cahaya matahari yang mulai muncul di ujung sana.”
“Tuan… coba yuk!” Sang
sekretarisnya gak capek-capeknya berantusias untuk segala sesuatu.
Sang Tuan menurut. Mereka
berdiri disalah satu tanah datar diatas kepala Sang Gunung Berapi dan melihat
indahnya pemandangan yang ada dihadapan mereka. Langitnya berwarna jingga
seperti menyelimuti kawasan pedesaan dibawahnya.
Sang Tuan memandang ke
sekelilingnya. “Benar-benar indah,” pujinya.
Kapan-kapan dia harus mencoba
untuk melakukan pendakian menyusuri gunung berapi ini.
“Ya… dan saya bangga
karenanya,” Sang Gunung Berapi berkata dengan tegas.
***
“Ada yang indah juga disini!” sebuah
suara menggema.
Sang Tuan menoleh. Di kejauhan
timur sana, kelihatanlah olehnya sebuah burung Cendrawasih dengan bulu
berwarna kuningnya yang indah. Sang Tuan mendekati burung itu, diikuti oleh
sekretarisnya dan si Garuda. Mereka tiba-tiba saja tertarik ke sebelah ujung
timur dari wilayah Indonesia ini.
“Hai…..” Sang Cendrawasih
menyapa.
Kembali Sang Tuan tersenyum
meresponinya.
“Saat ini anda sedang melihat
burung terindah di seantero Indonesia. Nama saya adalah Cendrawasih kuning
kecil atau bisa juga dipanggil Paradisaea minor.”
“Salam
kenal!” sahut si Sekretaris.
Sang
Cendrawasih merentangkan bulu-bulu di sayapnya, memperlihatkan kecantikan
pakaian berwarna kuning yang dikenakannya itu.
Sang
Garuda mengepak-ngepakan sayapnya sambil mengedipkan sebelah matanya pada si
burung Cendrawasih.
“Dia
gak bakal suka sama kamu!” bisik si Sekretaris ke telinga Garuda.
“Bukan
urusan kamu!” tukas Sang Garuda.
“Paradisaea
minor…. Kau sangat indah. Tak heran banyak orang merasa sangat senang
melihatmu.”
“Cendrawasih
menjadi kebanggaan sendiri bagi wilayah kami, tanah Papua, Tuan.”
“Bagus…
bagus…” Sang Tuan manggut-manggut.
Tiba-tiba
ada suara berisik. Mereka semua serentak melihat kesebelah kiri mereka dimana
sebuah tempat yang memiliki banyak gedung mengelilingi sebuah kubangan besar.
“Itu
tambang emas,” kata Sang Cendrawasih seakan tahu pertanyaan si Sekretaris.
“Emas?
Wah!” Sang sekretaris bergumam sendiri.
“Emas…
sebuah materi berwarna kuning yang amat berharga dengan harga yang mahal.
Tambang emas terbesar se-Indonesia ada disini!”
“Wilayah
ini adalah tanah yang kaya!”
“Ya dan
saya bangga karenanya,” Sang Cendrawasih berkata dengan tegas.
***
“Jangan
lupakan yang hijau disini!” suara lain terdengar.
Sang
Tuan segera mencari sumber suara itu. Di kejauhan, tampak sekelompok pepohonan
hijau yang sedang bergoyang tertiup angin.
“Hai…”
“Hai…”
“Hai…”
Pohon-pohon
itu menyapa bergantian.
“Nah…
ini aspek yang penting dalam menjaga dunia dari global warming!” seru Sang
Sekretaris.
“Ya,
benar sekali. Pulau Kalimantan terkenal dengan populasi pepohonannya yang
sangat banyak,” Sang Garuda memperkenalkan wilayah dimana mereka berada
sekarang.
“Kami
adalah Hutan Kalimantan. Kehijauan kami dapat membantu melindungi bumi ini, khususnya
negeri Indonesia ini.”
“Wah…
Kalian sangat berjasa! Terima kasih untuk hal itu!” Sang Tuan tersenyum lebar
kepada mereka.
Sang
Hutan Kalimantan tersipu. “Silahkan berjalan-jalan disekitar kami dan anda akan
merasakan ketenangan, kedamaian, kesejukan, dan kesegaran. Sangat bagus untuk
relaksasi, Tuan!”
“Ya…
Udaranya sangat segar!” Sang Tuan mengangguk-angguk. “Kalian indah dengan warna
hijau yang menghampar melindungi udara di Indonesia!”
“Ya,
benar, Tuan, dan saya bangga karenanya,” ucap Sang Hutan Kalimantan serempak.
***
“Ada
yang ingin menyelam dan melihat apa yang ada didalam birunya laut?” sebuah
suara terdengar seperti salesman yang sedang menjajakan dagangannya.
Sang
Tuan menoleh kesebelah kirinya.
Tepat
di pulau sebelahnya, air laut yang tadinya tenang menjadi bergelombang
mengikuti suara yang terdengar.
Sang
sekretaris segera melesat keatas laut itu.
“Selamat
datang di wisata bawah laut Bunaken!” Sang Garuda berkata dengan lantang.
“Hai….”
sapa Sang Laut.
Sang
sekretaris membenamkan kepalanya kedalam air laut.
“Eh….
Jangan sembarangan!” Tuannya mengingatkan.
Beberapa
detik kemudian, dia menongolkan kepalanya karena kehabisan nafas. Tapi ekspresi
yang dikeluarkannya malah sumringah.
“Wow……Keren
banget didalam, Tuan!” katanya sambil berdecak kagum.
“Indah,
bukan?” Sang Laut membanggakan dirinya.
“Saya
dinamakan Taman Nasional Bunaken, merupakan sebuah pulau kecil bernma Bunaken
terletak di Sulawesi Utara. Pulau ini dapat di tempuh dengan speed boat atau
kapal kecil sewaan dengan perjalanan sekitar 30 menit dari pelabuhan kota Manado,” Sang Laut menjelaskan sebelum si Sekretaris menjelaskannya terlebih
dahulu dengan gaya sok tahu (ya sebenarnya memang tahu).
“Banyak
sekali wisatawan datang ke tempat ini untuk menikmati keindahan bawah lautnya.
Iya kan?” Sang Sekretaris menambahkan penjelasan itu. Tuh kan?!
Sang
Laut memercikan air ke wajah si Sekretaris. “Iya, benar sekali!”
Sang
Tuan mencoba melihat kebawah laut itu. “Wah…. Saya melihat ikan-ikan dan terumbu
karang yang indah! Dibawah birunya laut, terdapat beraneka bentuk dan warna
biota laut disini,” pujinya saat menengadahkan kepalanya dari laut.
“Ya
benar, Tuan, dan saya bangga karenanya,” Sang Laut membuat ombak bergelombang.
***
Terdengar
suara berisik pasir dalam jumlah besar yang dijatuhkan ke lantai.
Sang
Tuan mengarahkan matanya ke arah selatan. Lalu dengan cepat melesat mendekati
sebuah pulau di selatan.
Butiran
pasir bergerombol membentuk sesuatu yang mempunyai kaki, tangan, dan mulut. “Hai,”
sapanya.
“Wah….
Kalian ngecat diri kalian ya? Kok warnanya pink?” tanya Sang Sekretaris terkejut
melihat warna pasir yang ada dihadapannya.
“Memangnya
rambut pake dicat segala?” tukas Sang Tuan menegur sekretarisnya.
“Ya
mungkin aja, Tuan! Beli aja cat rambut yang banyak!”
Butiran
pasir itu membentuk mulut yang tersenyum. “Inilah keunikan dari Pantai Pasir
Pink di Taman Nasional Komodo di Pulau Komodo yang terletak di Busa Tenggara
Timur. Kami adalah pasir merah muda itu!”
Sang
Sekretaris memandang keseluruh pantai yang penuh dengan pasir berwarna merah
muda, terlebih saat pasir itu baru saja tersapu oleh ombak. “Bagus banget! Kok
bisa warnanya merah muda?”
“Warna
pink atau merah muda ini berasal dari hewan mikroskopik bernama foraminifera
yang memproduksi warna merah atau pink terang pada terumbu karang dan pecahan
karang yang berwarna merah itu tersebar disepanjang pasir di pantai ini mati
hingga menyebabkan kami berwarna merah muda.”
“Forami
apa?” Sang Sekretaris merasa aneh mendengar istilah itu.
“Udah
gak usah dipikirin! Main-main aja di pantai ini. Jarang kan bikin istana pasir
yang warnanya pink?” kata Sang Butiran Pasir itu memberi tawaran.
“Warna
pink pasir di pantai ini mempunyai daya tarik yang sangat bagus. Pemandangan
pantainya jadi terlihat indah yang tidak biasa seperti pantai lainnya karena
warna merah muda pasirnya,” puji Sang Tuan sambil berjalan perlahan dipantai
itu, menapaki pasir-pasir berwarna merah muda yang basah terkena air laut itu.
“Ya,
benar, Tuan, dan saya bangga karenanya,” kata Butiran pasir itu.
***
“Tuan… hari sudah semakin sore disini. Pulang
yuk!” ajak Sang Sekretaris pada Tuannya.
“Ada
lagi yang ingin anda tunjukan, Garuda?” tanya Sang Tuan pada si burung Garuda.
“Sebagai
penutup, bagaimana kalau kita melihat matahari terbenam di sebuah pantai di
pulau Karimun Jawa?”
“Sunset?
Ayok!!!!” Sang Sekretaris yang tadinya sudah tak sabar untuk mengakhiri acara jalan-jalan
ini, menjadi bersemangat untuk melanjutkannya ke sebuah tempat yang bernama
Karimun Jawa.
Sang
Garuda mengarahkan mereka ke pulau Jawa, lalu semakin dekat ke sebuah pulau
kecil di atasnya.
Sampailah
mereka ke tempat tujuan.
“Ini
adalah Pulau Karimun Jawa yang terletak di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah,” Sang
Garuda memperkenalkan tempat itu.
Mereka berhenti di sebuah jembatan kayu yang
mengarah hampir ke tengah laut. Disana mereka melihat dari kejauhan, Sang
matahari perlahan tenggelam di sebuah garis perbatasan laut dan langit.
Akan
tetapi ada hal yang unik dari pemandangan matahari terbenam lainnya.
“Pancaran
matahari yang akan terbenam dilihat dari pantai ini akan memancarkan cahaya
kuning keemasan dengan lembayung ungu,” jelas Sang Garuda.
“Wah….
Sunset Ungu!!!” Sang Sekretaris berdecak kagum dengan mata yang berbinar.
“Indah banget ya, Tuan? Cocok nih untuk tempat kencan!”
Spontan Sang Garuda tertawa.
Sang
Tuan menganggukan kepalanya. “Sangat indah!”
“Ya,
benar, dan saya bangga karenanya!” sebuah suara terdengar ditengah deburan
ombak lautan.
***
“Warna itu merupakan gelombang continue yang
menyambung satu sama lain dan tak terpisahkan, hanya saja panjang gelombangnya
berbeda.”
“Tuan…. Lagi belajar Fisika?” tanya
si Sekretaris tak mengerti arah perkataan Tuannya itu.
“Apa yang tadi saya katakana ada
kaitannya dengan keindahan Indonesia!”
Sang Sekretaris malah
garuk-garuk kepala, tak mengerti juga.
“Berbagai keindahan alam yang
tadi telah kita lihat merupakan representasi warna pelangi, bukan?”
Sang Garuda mengangguk. Si
Sekretaris masih garuk-garuk kepala.
“Maka tiap-tiap dari mereka tak
terpisahkan dalam naungan negeri Indonesia ini. Mereka semua adalah obyek
penting bagi Indobesia dan harus saling berkontinue untuk mengharumkan nama Indonesia dan kepentingan umum.”
“Benar, Tuan! Saya bangga
karenanya!” Sang Garuda menaruh sayap kanannya di depan dadanya.
Sang Tuan dan sekretarisnya
membalas dengan senyuman lebar. Si Sekretaris melambaikan tangannya pada Garuda
yang hanya bisa mengibaskan sayapnya.
Keduanya kemudian melesat dalam
cahaya putih yang menyilaukan.
Sang
Garuda mengepak-ngepakan sayapnya, semakin kencang, hingga ia melesat mengitari
negerinya, negeri kepulauan yang membuat Sang Garuda sangat bangga kepadanya.
***
Sunday, November 24, 2013
Thursday, November 14, 2013
“If people do not believe that mathematics is simple, it is only because they do not realize how complicated life is.”
― John von Neumann
Come on, guys... siapa yang bilang kalau hidup itu mudah?
ya, hidup itu susah. Tapi kalian pasti gak pernah berpikir bahwa hidup itu lebih susah dari sekadar mengerjakan soal matematika.
Dalam Matematika, kita punya rumus. Tinggal masukin angka-angka yang ada di soal kedalam rumus yang tersedia. Lalu... holala! Ketemulah jawabannya. Masalah selesai!
Gitu aja kok direpotin?
Nah... coba kita amati kehidupan kita. Emang ada rumus buat memecahkan semua masalah-masalah di hidup kita?
Oke lah, kita bisa lihat banyak banget orang yang mengadakan seminar motivasi tentang cara-cara jitu untuk mencapai sukses di dalam karir, menjadi orang yang berbahagia dan awet muda, menjadi murid yang berprestasi, menjadi penulis yang hebat, sampai menjadi ibu rumah tangga yang baik. Bentar lagi pasti ada seminar tentang cara menjadi pembantu rumah tangga yang baik!
Ada banyak buku juga diterbitkan mengenai hal-hal diatas atau mungkin hal lainnya yang mirip dengan hal itu,
gak kembar identik tapi intinya kembar!
Hal-hal diatas bagus.... sangat bagus untuk diikuti dan dipelajari.
Tapi kalau kita mau telaah lagi, apakah itu benar-benar 100% menjamin? Bukankah semuanya pada akhirnya dikembalikan kepada yang Empunya?
Artinya, kehidupan kita ini complicated alias membingungkan....
sering kali kita berada di posisi dimana kita merasa menemukan 'unsolved problem' atau masalah yang tak terpecahkan.
Dalam Matematika, hanya ada dua kemungkinan jika kita menemukan 'unsolved problem'.
Yang pertama, emang soal-nya yang salah! Salah si pembuat soal-nya dong! Jadi ya gak usah dikerjain!
Yang kedua, sebenernya ada jawabannya dan bisa dipecahkan, tapi butuh higher thinking alias mikir lebih tinggi!
Kalau dalam hidup?
Kemungkinan yang pertama jelaslah gak mungkin! Tuhan gak pernah salah dalam membuat segala sesuatu dalam hidup kita. Sekalipun Dia mengizinkan masalah datang ke hidup kita, itupun bukan suatu kesalahan.
Jadi.... yang mungkin adalah yang kedua.
Semua masalah itu ada penyelesaian tepatnya! Cuma memang kadang-kadang butuh higher thinking!
Kalau kita gak tinggi, naik pohon atau manjat menara biar jadi tinggi.
Kalau kita pikirannya pendek -maunya nyerah, jatuh di kubangan lumpur dan malah menikmati berkubang, atau malah memilih mengakhiri hidupnya- ya jelas lah gak bisa dipecahin masalah kehidupannya!
Higher thinking bukan buat orang-orang pinter bin jenius kayak Albert Einstein kok!
Cukup dengan berdiam diri sejenak dan berpikir dengan pikiran yang jernih kearah yang positif....
Nah, sekarang, yakinkan diri anda bahwa semua masalah pasti bisa dihadapi dan akan ada penyelesaiannya.
Eh, btw, jangan lupa nulis conclusion dari penyelesaian masalah anda! dalam maetematika, harus ada himpunan penyelesaian (HP) tuh!
― John von Neumann
Come on, guys... siapa yang bilang kalau hidup itu mudah?
ya, hidup itu susah. Tapi kalian pasti gak pernah berpikir bahwa hidup itu lebih susah dari sekadar mengerjakan soal matematika.
Dalam Matematika, kita punya rumus. Tinggal masukin angka-angka yang ada di soal kedalam rumus yang tersedia. Lalu... holala! Ketemulah jawabannya. Masalah selesai!
Gitu aja kok direpotin?
Nah... coba kita amati kehidupan kita. Emang ada rumus buat memecahkan semua masalah-masalah di hidup kita?
Oke lah, kita bisa lihat banyak banget orang yang mengadakan seminar motivasi tentang cara-cara jitu untuk mencapai sukses di dalam karir, menjadi orang yang berbahagia dan awet muda, menjadi murid yang berprestasi, menjadi penulis yang hebat, sampai menjadi ibu rumah tangga yang baik. Bentar lagi pasti ada seminar tentang cara menjadi pembantu rumah tangga yang baik!
Ada banyak buku juga diterbitkan mengenai hal-hal diatas atau mungkin hal lainnya yang mirip dengan hal itu,
gak kembar identik tapi intinya kembar!
Hal-hal diatas bagus.... sangat bagus untuk diikuti dan dipelajari.
Tapi kalau kita mau telaah lagi, apakah itu benar-benar 100% menjamin? Bukankah semuanya pada akhirnya dikembalikan kepada yang Empunya?
Artinya, kehidupan kita ini complicated alias membingungkan....
sering kali kita berada di posisi dimana kita merasa menemukan 'unsolved problem' atau masalah yang tak terpecahkan.
Dalam Matematika, hanya ada dua kemungkinan jika kita menemukan 'unsolved problem'.
Yang pertama, emang soal-nya yang salah! Salah si pembuat soal-nya dong! Jadi ya gak usah dikerjain!
Yang kedua, sebenernya ada jawabannya dan bisa dipecahkan, tapi butuh higher thinking alias mikir lebih tinggi!
Kalau dalam hidup?
Kemungkinan yang pertama jelaslah gak mungkin! Tuhan gak pernah salah dalam membuat segala sesuatu dalam hidup kita. Sekalipun Dia mengizinkan masalah datang ke hidup kita, itupun bukan suatu kesalahan.
Jadi.... yang mungkin adalah yang kedua.
Semua masalah itu ada penyelesaian tepatnya! Cuma memang kadang-kadang butuh higher thinking!
Kalau kita gak tinggi, naik pohon atau manjat menara biar jadi tinggi.
Kalau kita pikirannya pendek -maunya nyerah, jatuh di kubangan lumpur dan malah menikmati berkubang, atau malah memilih mengakhiri hidupnya- ya jelas lah gak bisa dipecahin masalah kehidupannya!
Higher thinking bukan buat orang-orang pinter bin jenius kayak Albert Einstein kok!
Cukup dengan berdiam diri sejenak dan berpikir dengan pikiran yang jernih kearah yang positif....
Nah, sekarang, yakinkan diri anda bahwa semua masalah pasti bisa dihadapi dan akan ada penyelesaiannya.
Eh, btw, jangan lupa nulis conclusion dari penyelesaian masalah anda! dalam maetematika, harus ada himpunan penyelesaian (HP) tuh!
Subscribe to:
Posts (Atom)
